Hampir setengah jam kemudian, Tania keluar dari kamar dengan penampilan rapi. Celana jeans dan kemeja putih membalut tubuhnya. Ia sempat berhenti sejenak di depan meja rias, mengoleskan bedak tipis dan lipstik sekadarnya—sekadar menyembunyikan wajah pucat dan sisa lelah di matanya—sebelum akhirnya melangkah menyusul Bara. Sepanjang perjalanan, tak banyak kata yang terucap. Sesampainya di klinik, seorang perempuan berjas putih menyambut mereka dengan senyum hangat. “Bara? Astaga… kamu makin kelihatan tampan,” ujar Dokter Risa ramah. “Dan ini… istrimu?” “Iya. Istri saya. Namanya Tania,” jawab Bara singkat. “Silakan masuk,” kata Risa, mempersilakan mereka. Begitu duduk, Dokter Risa tersenyum kecil. “Pantas saja kamu selalu menjaga jarak dengan perempuan sejak sekolah. Ternyata yan

