Sagara mendekatinya sedikit, senyum sinis muncul di sudut bibirnya. “Kenapa diam, Ras?” Nada suaranya rendah, berbahaya. “Kaget? Syok? Atau baru sadar kalau selama ini kamu cuma perempuan penuh tipu muslihat yang terjebak dalam halusinasi sendiri?” Laras menggigit bibirnya. Tidak bisa membalas. Tidak sanggup. “Mas Sagaraaa, sudahlaaah…” Alana menarik lengan suaminya sambil merengek halus. “Ayo kita beli buaaah. Alana nggak mau lihat Mas ribut sama Kak Laraaas…” “Tunggu dulu, Sayang.” Sagara menahan. Bahunya menegang. “Mas harus kasih pelajaran dulu ke perempuan ular ini. Biar dia jera. Biar dia berhenti nipu orang lagi.” “Maaas…” Alana kembali merengek, suaranya pelan namun memohon. Ia benar-benar tidak tahan melihat suaminya berhadapan dengan kakak tirinya sendir

