Bibir mereka kembali menyatu dalam ciuman yang semakin panas. Boby, tanpa ragu, mengangkat tubuh mungil Rara dengan mudah, menyenderkannya kembali ke dinding kayu tanpa menghentikan serangan bibirnya. Rara terkesiap. Sensasi itu begitu mendominasi, membuatnya refleks melingkarkan kembali kedua tangannya di leher Boby. Namun, itu saja tidak cukup. Dalam upaya mencari pegangan, kedua kakinya pun turut melingkar di pinggang pria itu, seolah tak ingin ada jarak di antara mereka. Ia bisa merasakan betapa ganas dan menuntutnya ciuman pria itu—membakar setiap inci kesadarannya, mengaburkan batas antara kewarasan dan godaan. Namun, alih-alih menolak, tubuhnya justru bergerak sendiri, membalas kembali permainan nakal pria itu. Sebuah permainan yang semakin liar, semakin menggoda, dan kini… ta

