Boby masih terus larut dalam permainan nakalnya, bermain-main dengan liar di bagian bawah Rara. “Ah, Bang Boby, aaaaaaah... Enak, Bang... Aaahh, enaaaak...” Rara tak henti-henti mendesah kenikmatan di atas ranjang. Sementara itu, di kamar lain, tangis bayi kecil itu tak juga reda. Suara tangis yang tadi hanya sesekali kini berubah menjadi tangisan panjang, terputus-putus, seperti napas kecil yang tersengal. Di kamar belakang, Bi Darmi yang semula terlelap akhirnya terbangun. “Ya Tuhan… itu si Neng Naumi kenapa? Kok nangisnya kejer begitu?” gumamnya panik. Iya, Bayi kecil itu sudah diberi nama ‘Naumi’. Tanpa sempat merapikan kerudungnya dengan benar, ia segera bangkit dan berjalan cepat menuju kamar Arumi. Tok! Tok! “Arumi… Rum… itu Neng Naumi kenapa? Kok nangisnya keras sek

