Satu jam kemudian… Mobil sederhana milik Rehan berhenti tepat di depan bengkel. Sepi. Rolling door sudah tertutup rapat. Lampu bengkel padam. Bahkan lampu rumah di belakangnya pun gelap gulita. “Sudah sepi, Teh,” ucap Rehan pelan, menatap sekitar. “Iya, Han…” Arumi mengernyit bingung. “Tumben Bang Boby tutup bengkel lebih awal. Kalau tahu begini, tadi mending ikut saja ke rumah Tante, sekalian antar Teteh sama Naumi.” Ada nada ganjil dalam suaranya. Bingung… dan sedikit curiga. Ia turun perlahan, masih menggendong Naumi yang akhirnya terlelap karena lelah menangis. Rehan membantu membawakan tas. Karena tak ingin membangunkan Boby jika memang ia sudah tidur, Arumi menggunakan kunci cadangan. Pintu terbuka pelan. Ceklek. Begitu melangkah masuk— Arumi terdiam. Ruang

