SEASON 2 // Bab 93

2260 Words

“Apa, kamu bilang? Lepasin?” Sania mendengus sambil tertawa getir, tawa yang dingin dan kejam. “Sampai kapanpun, aku enggak bakal ngelepasin kamu, Laura! Kamu pikir, aku mau sia-siain kesempatan emas ini?” Genggamannya di lengan Laura semakin kuat. Jari-jarinya mencengkeram sampai kulit Laura terasa perih. “Hiks… hiks… K-Kak Sania, awas…! Hiks… hiks… jangan, Kak! Hiks… lepasin Laura! Hiks… tolong, Kak!” tangis Laura pecah, suaranya parau, tubuhnya gemetar hebat, tapi tangannya masih berusaha bertahan di pegangan tangga. Sania malah tertawa makin keras. Tawa itu menggema di seluruh rumah, menakutkan, seperti suara iblis yang sedang bersenang-senang. “Lauraaa… Lauraaa…” katanya sambil menatap tajam, “buat apa kamu mohon-mohon kayak gini, hah?! Buat apa?!” Air mata Laura menetes d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD