Pagi pun tiba. Di rumah Ibu Mitha, suasana terasa ganjil—tenang di luar, tetapi penuh gelombang di dalam hati seseorang. Setelah semalaman dibujuk dan dirayu oleh Mbok Minah, resepsi pernikahan Rara dengan Alif akhirnya tetap dilangsungkan. Acara itu sederhana. Hanya keluarga terdekat yang hadir. Dari pihak Alif pun tak banyak rombongan—ia hanya datang bersama Om Edo dan Pak Anwar, sesepuh ustaz sekaligus guru agama dari majelis taklim yang ia dirikan di kompleks rumahnya. Mereka menjadi saksi hari sakral itu. Di dalam kamar, Rara duduk membeku di depan jendela. Riasannya sudah sempurna—wajahnya cantik, anggun, nyaris tanpa cela. Namun matanya sembab. “Hiks… hiks…” Air matanya tak berhenti mengalir. “Bang Boby… Abang di mana…?” lirihnya. Semalaman ia mencoba menghubungi pri

