Setelah hampir lima jam dalam perjalanan… Di rumah Alif, Bandung. Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah besar bercat putih gading. Halamannya rapi, lampu-lampu taman menyala hangat menyambut malam. “Turun, yuk. Sudah sampai,” ucap Alif lembut, senyum tipis menghiasi wajahnya. Ia menoleh ke samping. Rara masih duduk diam, wajahnya cemberut, mata sembab, bibirnya terkatup rapat. “Kenapaaa?” tanya Alif pelan, penuh kehati-hatian. “Dari tadi kamu cemberut terus.” “Nggak apa-apa,” jawab Rara singkat, nada suaranya datar dan ketus. Tanpa menunggu, ia langsung membuka pintu mobil dan turun. Langkahnya cepat, seolah ingin segera menjauh dari percakapan itu. Alif menghela napas tipis, lalu ikut turun. “Mbok Ijah! Pak Asep!” panggilnya. Tak lama, dua orang yang sejak lama

