Sementara itu, di dalam ruang rawat... Renata masih terbaring lemah. Tubuhnya gemetar, wajahnya pucat. Tapi di balik kondisinya yang rapuh, satu hal tetap menguasai pikirannya. “Hiks... hiks... Mah... Papah mau ke mana?” Suaranya pelan, nyaris tercekat oleh tangis. “Papah nggak akan nyakitin Bang Diki, kan?” Ibu Lia segera menghampirinya dan duduk di sisi ranjang. Ia menggenggam tangan Renata erat, mencoba menenangkannya. “Sudah, Sayang... Tenang dulu, ya.” “Papah kamu tahu apa yang harus dia lakukan, dan dia juga tahu batasnya.” Renata mengangguk kecil, tapi air matanya tak berhenti. Perlahan ia membenamkan wajahnya ke pelukan ibunya. “Renata minta maaf, Mah...” “Renata udah bikin Mamah dan Papah kecewa, marah, malu… semuanya.” Ia mengangkat wajahnya perlahan.

