“A-Apa?!!” seru ketiganya nyaris bersamaan, shock, seolah petir menyambar di siang bolong. “Ya Tuhan… bener dugaan aku…” bisik Alana dalam hati, kini semakin yakin dengan firasat yang sejak tadi mengganggu pikirannya. “N-Nggak. Nggak mungkin! Renata nggak mungkin hamil, Dit!” Ibu Lia tiba-tiba membentak, napasnya memburu. “Ini pasti salah! Dia belum menikah! Kamu sebagai sahabatnya juga pasti tahu kan? Bahkan pacaran saja dia belum pernah!” Suaranya bergetar antara marah, panik, dan hancur. “Renata itu anak tante… anak baik, Dit!” ulangnya lagi, kali ini lebih keras dan penuh tekanan, seolah menolak keras realita yang ada di depannya. Dokter Dita menunduk sejenak, mencoba menjaga empatinya. “Iya, Tante… saya tahu. Saya tahu betul siapa Renata…” ucapnya pelan. “Tapi, ini adala

