Dari belakang, pintu kembali terbuka dengan terburu-buru. Ternyata Siska—yang sejak tadi mengikuti Alana diam-diam—langsung berlari menghampirinya. Wajahnya panik setengah mati. “M-maaf ya, Pak, Bu...??? Te-te-teman saya ini udah mengganggu rapat Bapak dan Ibu??” Kata Siska gugup, suaranya nyaris patah di tengah kalimat. Ia menunduk dalam-dalam, wajahnya memerah, mencoba meminta maaf kepada semua dosen di ruangan itu. Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Siska segera menutup kembali pintu ruang rapat, lalu menarik tangan Alana dengan cepat, menyeretnya menjauh dari tempat itu sebelum situasinya makin memalukan. Begitu mereka sampai di koridor kampus yang sepi, Siska langsung menatap Alana dengan napas terengah. “Alanaaa... loh itu apa-apaan sih?! Ngapain juga coba loh itu ngikutin

