15 MENIT KEMUDIAN... Di area parkir hotel, Sagara berdiri bersandar di mobil hitamnya. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala pelan. Asap putih menari-nari di udara sore. Penampilannya benar-benar berbeda dari citra seorang dosen muda yang dikenal rapi dan berwibawa di kampus—kaus hitam, jaket kulit, jeans robek, dan tatapan tajam yang menambah kesan liar. Ia mengembuskan asap dengan kesal. “Aduh... ke mana sih mereka? Lama banget!” gumamnya sambil melirik jam tangan. “Dasar perempuan, dandan aja bisa setengah jam. Kalau begini, bisa gagal deh rencana jalan sama Laras...” Ia menghela napas panjang, lalu menggaruk rambutnya yang sudah disisir seadanya. “Harus gue samperin ke atas, nih?” Baru saja ia hendak melangkah, suara ceria memotong pikirannya. “Kak Sagaraaa! Kiara

