MASIH DI RUMAH IBU ALIKA. Waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi. Hari ini adalah jadwal keberangkatan Gavin ke Jepang. Dengan penampilan yang rapi dan begitu tampan, ia duduk di kamarnya, hanya menunggu Raka datang menjemput untuk mengantarnya ke bandara. Namun, matanya tak bisa lepas dari sosok Laura, istri kecilnya, yang sejak tadi hanya duduk diam sambil cemberut. Raut wajahnya jelas menggambarkan kegundahan hati, meski bibir mungilnya keras menolak untuk mengakuinya. “Sayang, kamu kenapa?” tanya Gavin lembut, sorot matanya penuh rasa iba. “Enggak papa!” jawab Laura ketus, tapi getaran dalam suaranya jelas terdengar. “Sayaaaang, kamu kenapa, siiih? Dari tadi cemberut terus?” Gavin mengulang pertanyaannya, kali ini sambil melangkah pelan menghampiri, lalu duduk di sampingnya. Ia

