“Baik, Den.” Jawab Bi Ina sambil buru-buru hendak melangkah ke kamar Gavin untuk memanggilnya. Namun, langkahnya terhenti begitu saja ketika tiba-tiba Gavin sudah keluar lebih dulu. Ia turun perlahan dari tangga, satu tangan merangkul Laura erat, sementara tangan satunya mengusap rambut istrinya dengan lembut. Wajah Laura tampak masih cemberut, matanya sayu, jelas sekali ia belum rela ditinggalkan. “Suuuttt… udah, udah. Jangan sedih, Sayang,” bisik Gavin pelan, menyenderkan kepalanya di pundak Laura. “Mas enggak akan lama kok di Jepang.” Laura tidak menjawab. Ia hanya diam, bibirnya manyun, matanya berkaca-kaca. Ia bersandar semakin erat di bahu Gavin, seolah ingin menahan waktu agar suaminya itu tidak jadi berangkat. Raka yang sejak tadi berdiri menunggu, menatap mereka dengan heran

