DI PERJALANAN “Aaaah! Sial! Sial! Siaaaal!” Kenzo memukul setir mobilnya dengan emosi yang tak lagi bisa dibendung. Dadanya sesak, napasnya memburu. “Kenapa, sih… kenapa orang yang paling nyakitin gue justru orang yang paling gue sayang?” Suaranya bergetar. “Mba Ayu… kakak gue sendiri…” Kenzo mengusap wajahnya kasar. Kepalanya penuh, hatinya porak-poranda. Tanpa sadar, kakinya menekan pedal gas lebih dalam. Mobil melaju kencang, membelah jalanan menuju sekolah—menuju satu-satunya orang yang kini benar-benar ia khawatirkan. Alesha. DI SEKOLAH Jam dinding menunjukkan pukul 11.00 siang. Di depan ruang UKS, kerumunan siswa dan siswi masih riuh. Suara bisik-bisik, tawa sinis, dan tatapan penuh penilaian saling bersahutan. Gosip tentang Alesha belum juga reda—bahkan justru

