Keesokan harinya… Mobil Bara berhenti di tepi jalan, tak jauh dari gerbang sekolah. Keheningan di dalamnya terasa menyesakkan—tak satu kata pun terucap. Ia sengaja menurunkan Tania di sana, memilih jarak aman agar tak seorang pun mengetahui ikatan pernikahan yang mereka sembunyikan. Tania turun dengan langkah berat. Wajahnya masih sembab, matanya menyimpan sisa amarah dan luka. Ingatannya kembali pada ciuman kasar Bara kemarin—sesuatu yang membuat dadanya perih setiap kali terlintas. Sementara itu, Bara tetap duduk membisu di balik kemudi. Tatapannya mengikutinya, mantap namun penuh rasa tak tega. Rasa bersalah menggerogoti, menahan dirinya untuk memanggil—namun tak pernah sampai terucap. Baru setelah sosok Tania lenyap di balik gerbang sekolah, Bara menghela napas panjang. Ia lalu

