Kembali lagi pada Rara… “Bang Boby… kenapa Abang nggak menepati janji?” lirihnya pelan. “Rara sudah nunggu hampir satu jam di sini…” Angin sore berembus pelan di gang sempit itu. Dinding-dinding kusam dan aspal yang retak menjadi saksi kesetiaannya menunggu. Kakinya sudah pegal. Hatinya lebih pegal lagi. Ia menghela napas panjang saat tak ada satu pun tanda-tanda Boby akan datang. Mungkin aku terlalu berharap… Rara menunduk. Saat ia hendak melangkah pergi, meninggalkan gang dan juga rasa kecewa yang mulai menyesakkan d**a— Suara motor sederhana terdengar mendekat dari belakang. “Hai, Sayang…” seru suara yang begitu ia kenal. Rara sontak menoleh. Dan begitu wajah itu terlihat— Senyumnya langsung merekah, seolah satu jam penantian tadi tak pernah ada. “B-Bang Boby…”

