Waktu menunjukkan pukul dua siang. Bel pulang sekolah menggema panjang, disusul riuh langkah kaki para siswa yang berhamburan keluar kelas. Tawa, obrolan, derap sepatu—semuanya bercampur jadi satu. Di antara keramaian itu, Tania sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil mewahnya. Pintu ditutup perlahan oleh sopir pribadi keluarga Bara—suaminya. Mobil melaju meninggalkan halaman sekolah. Di dalam kabin yang sejuk dan sunyi itu, pikiran Tania justru tak setenang suasananya. Undangan pernikahan Nita terlintas lagi di benaknya. “Besok hari penting Nita…” gumamnya dalam hati. “Coba aja Mas Bara sudah pulang dari Amerika… pasti gue bisa datang bareng dia.” Senyumnya mengembang tipis. “Sekalian… gue juga pengen pernikahan gue sama Mas Bara go public. Biar semua orang tahu.” Ia membayangkan b

