DI RUMAH SAGARA — 07:00 MALAM Pintu rumah terbuka pelan. Sagara dan Alana baru saja tiba, angin malam masih menggantung di sekitar tubuh mereka. “Akhirnyaaa kita sampai di rumah juga, sayang. Kamu capek banget, ya?” ucap Sagara lembut sambil mengusap rambut Alana—sentuhan yang membuat gadis itu refleks bersandar pada tangannya. “Iya, capeeek… Adik kecilnya kakak ini pengin digendong sama kakaknya sampai ke kamaaar…” rengek Alana manja sambil mengulurkan kedua tangan. Sikap manjanya itu kini semakin berani ia tunjukkan setelah tahu siapa Sagara sebenarnya—kakak-kakak yang pernah menolongnya dulu. Sagara menatapnya lama. Ada hangat yang merambat di dadanya. “Ternyata semua perempuan sama ya… sekuat dan semandiri apa pun mereka terlihat, tetap ingin dimengerti, ingin dimanja-manja,” piki

