Di tempat lain… Pagi yang sama terasa sangat berbeda. Di rumah Pak Armand, ayah Nita, suasana justru dipenuhi keheningan yang berat. Tidak ada tawa, tidak ada percakapan ringan. Hanya sunyi yang terasa menekan. “Papa… kenapa melamun?” Suara Ibu Rika akhirnya memecah kesunyian itu. Ia menatap suaminya yang sejak tadi duduk diam di ruang tamu, menatap lurus ke depan tanpa berkedip. “Ini masih pagi, lho,” ujarnya lagi, mencoba terdengar santai. Namun Pak Armand tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap kosong, seolah pikirannya sedang melayang jauh ke tempat yang bahkan tidak bisa ia jangkau lagi. Beberapa saat kemudian, napasnya terdengar berat. “Papa… kangen sama Nita…” ucapnya lirih. Suaranya terdengar rapuh—sangat berbeda dari biasanya. Matanya mulai berkaca-kaca. “Bagaimana

