Aditya keluar terlebih dahulu. Ia mengenakan topi bisbol gelap dan kacamata hitam, namun aura dominannya tidak bisa disembunyikan oleh pakaian biasa. Ia memindai setiap sudut landasan dengan mata yang tajam, sementara tangan kanannya tetap berada di dalam saku jaket, siap pada senjatanya. "Ikuti aku, jangan menjauh lebih dari satu langkah," perintah Aditya saat membantu Aurora turun. Mereka tidak menggunakan mobil mewah. Sebuah mobil van tua yang sedikit berkarat sudah menunggu, dikemudikan oleh salah satu kontak lama Aditya yang masih tersisa. Hendra duduk di depan, sementara Aurora dan Aditya berada di kursi belakang yang gelap. Mobil itu melaju menembus kemacetan Jakarta yang mulai menggila. Aurora menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang dulu menjadi latar belakang

