Zoya mengangguk cepat, dia menahan air matanya yang hampir tumpah, tapi Zoya menguatkan hati. Lalu dia menunduk dan memeluk puteranya dengan penuh haru. “Hmm…anak Mama anak yang paling hebat. Anak mama selalu membanggakan mama sejak lahir. Anak hebat…anak pintar…” Zoya berbisik dengan suara serak sembari mengusap bulir bening yang akhirnya jatuh membasahi pipi, hingga membuat Ziont menggernyitkan dahi dan berfikir akan perubahan sikap Zoya yang terlalu emosional. Sedangkan Zoya yang dia ketahui adalah Zoya yang lebih kearah ceria dan berjiwa terbuka serta positive. “Yeaay! Demian anak hebat…” ucap Demian melonjak karena pujian sang ibu. Membuat Zoya menarik nafasnya kuat. “Karena anak mama hebat, kalau gitu ayo kita pulang…” ucapnya membuat anak kecil itu mengangguk perlahan dan terseny

