Sementara di lokasi berbeda terlihat ibu dan ayah Ziont sedang berbincang dengan keluarga mariska, sembari membahas permasalahan bisnis. “Dek Windy…apa tidak sebaiknya pernikahan anak kita di percepat dari jadwalnya? Tidak perlu ada pertunangan?” Tanya ibunda Mariska dengan mimik wajah serius menatap kearah Windy Aksena Ibrahim yang siang itu mengenakan setelah pakaian elegan. “Tapi, Mba. Aku harus membahas ulang rencana ini sama Ziont dulu, tau sendiri anakku itu orangnya keras kepala. Takutnya kalau di paksa malah dianya kabur…” bisik Windy yang sebenarnya sedikit keberatan dengan rencana perjodohan ini. Tapi dirinya tak bisa melawan kehendak sang suami yang telah berjanji pada keluarga Mariska, bahwa akan menikahkan anaknya. Tapi kala itu perjanjian mereka ketika adik Maariska lahir,

