“Beri aku waktu untuk berfikir Ziont. Aku sedang tidak ingin membahas hal itu, aku lelah dan ingin tidur, Ziont…” Ziont menatap lurus kearah Zoya dengan memiringkan tubuhnya. “Kamu tidak perlu berfikir panjang apalagi berat, Zoy. Kamu hanya perlu menjalaninya saja…” Ziont mengecup tangan Zoya dengan lembut dan seketika desiran halus mengisi dadanya. “Bagaimana menjadi istri dan menjadi ibu yang baik saja. Aku ingin kita menjadi keluarga yang lengkap untuk Demian, Zoy. Aku tidak mau puteraku menjadi bahan buli hanya karena memiliki keluarga yang tidak lengkap. Terlebih dia merupaka Zoya memejamkan mata pura-pura tidur, tapi Ziont tahu wanita itu kesulitan tidur. “Besok kita berangkat pagi, ya? Recana aku ke Bandung dulu, sih. Dari Bandung kita naik pesawat aja ke Jakarta. Aku sengaja ga

