Lorong rumah sakit malam itu terasa lengang, cahaya lampu neon putih menyinari setiap sudut dengan dingin. Albert berjalan tegap, wajahnya tetap tegas dan dingin seperti biasa, langkah kakinya mantap menuju ruang rawat tempat Kiara beristirahat bersama bayi mereka. Sesampainya di depan pintu, ia berhenti sebentar, menarik napas panjang, lalu membuka pintu dengan perlahan. Kiara yang masih terbaring lemah di ranjang, menoleh begitu pintu terbuka. Wajahnya terlihat pucat, namun senyumnya hangat ketika melihat Albert masuk. Bayi mungil mereka sedang tertidur lelap di dalam boks kecil di sisi ranjang. Kiara berusaha duduk sedikit lebih tegak, meskipun tubuhnya masih terasa lelah usai operasi. Albert mendekat, duduk di kursi di samping ranjang, lalu menggenggam tangan Kiara erat. Tatapannya m

