Valentina menuruni anak tangga panggung dengan langkah yang masih terasa ringan namun gemetar. Piala itu masih ia genggam erat di tangannya, seolah jika ia melepaskannya sedetik saja, semua ini akan menguap begitu saja. Sorot lampu masih mengikutinya hingga ia benar-benar menginjak lantai bawah, lalu perlahan meredup, mengalihkan perhatian ke peserta lain dan pembawa acara yang mulai menutup acara. Namun bagi Valentina, dunia terasa menyempit. Suara di sekelilingnya terdengar samar. Tepuk tangan, sorakan, bahkan suara musik latar bercampur menjadi satu dengungan panjang. Yang benar-benar ia rasakan hanya detak jantungnya sendiri dan berat piala di tangannya. Begitu kakinya menyentuh area dekat penonton, sosok pertama yang ia lihat adalah Mama. Kiara berdiri dari kursinya dengan kedua ta

