Belakang aula sekolah terasa jauh lebih sunyi dibanding bagian depan. Di sana tidak ada sorak-sorai penonton, tidak ada tepuk tangan. Yang ada hanya deretan kursi plastik, tirai panggung yang menjuntai, dan anak-anak yang menunggu giliran dengan ekspresi berbeda-beda. Ada yang tampak percaya diri, ada yang sibuk menghafal lirik, ada pula yang mondar-mandir gelisah. Valentina duduk di salah satu kursi paling ujung. Tangannya saling menggenggam di pangkuan. Kakinya tidak bisa diam, bergoyang kecil tanpa sadar. Matanya terus menatap ke celah tirai panggung, melihat bayangan anak-anak yang sedang tampil di depan. Suara nyanyian terdengar jelas. Seorang anak perempuan sedang bernyanyi dengan suara lantang dan stabil. Nada tinggi ia capai dengan mudah, ekspresinya penuh percaya diri. Bebera

