hari itu udara pagi di New York terasa lebih dingin dari biasanya. halaman sekolah kindergarten dipenuhi suara anak-anak yang berlarian, tawa kecil, dan sepatu mungil yang menghentak lantai beton. Valentina berjalan pelan menuju kelasnya, tas kecil berwarna krem tergantung di bahunya. biasanya ia akan menoleh, mencari Ethan, atau tersenyum pada guru yang menyambut di pintu kelas. tapi pagi itu, langkah Valentina terasa lebih berat. matanya menunduk. tangannya menggenggam tali tasnya erat. ia tidak menyadari tiga anak berdiri di sudut lorong dekat taman bermain kecil di belakang gedung kelas. tiga anak yang sejak beberapa minggu terakhir sering menatapnya dengan cara yang tidak menyenangkan. Valentina berhenti ketika salah satu dari mereka menghadangnya. “hey,” suara itu tidak keras, t

