Alden melangkah cepat memasuki lobi perusahaan besar itu. Kemeja hitamnya rapi, dasinya terikat sempurna, namun tatapan matanya sama sekali tidak memantulkan ketenangan seorang pewaris perusahaan ternama. Dinginnya sorot mata Alden membuat para karyawan yang berpapasan dengannya menunduk dan menahan napas, tidak berani menatap langsung, apalagi menyapa. Suara sepatu kulitnya menghentak lantai marmer, ritmenya tegas, penuh amarah yang ditahan-tahan. Lift terbuka, dan Alden masuk tanpa sepatah kata. Tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras, napasnya berat seakan setiap helaan menahan gejolak besar di dadanya. Begitu pintu lift terbuka di lantai tertinggi, langkahnya semakin cepat. Sekretaris Albert yang duduk di meja depan mencoba berdiri, ingin menahan, namun tatapan tajam Alden membuat

