Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang makan mansion. Tirai putih tipis bergerak perlahan karena hembusan angin dari pendingin ruangan. Di meja panjang berlapis marmer itu, Cassandra duduk anggun dengan gaun rumah berwarna pastel. Rambutnya yang panjang terurai, wajahnya masih segar karena baru saja selesai berdandan ringan. Alden duduk di seberangnya. Di depannya sudah tersedia sarapan lengkap; roti panggang, telur setengah matang, salad segar, jus jeruk, hingga secangkir kopi hitam yang aromanya kuat. Namun sejak tadi, ia hanya menatap kosong ke arah cangkir kopi itu. Tangannya menggenggam sendok, tapi tidak bergerak. Matanya sayu, seolah pikirannya terbang entah ke mana. Yang dipikirkan Alden hanya satu: bagaimana caranya ia bisa bertemu langsung dengan Kiara tanpa

