Kiara terbangun di tengah malam ketika udara kamar terasa dingin menusuk. Ia membuka matanya perlahan, menatap langit-langit ruangan yang hanya diterangi cahaya temaram lampu kecil di meja sisi tempat tidur. Tenggorokannya terasa kering, kepala sedikit berdenyut, dan tubuhnya terasa lelah. Albert masih terlelap di sebelahnya. Nafasnya teratur, wajahnya tenang, seperti seseorang yang tengah berada di dalam mimpi panjang tanpa beban. Kiara menatap suaminya beberapa detik sebelum perlahan duduk dan menarik napas panjang. Botol air di meja kecil sudah kosong. Ia menghela napas kecil, enggan membangunkan Albert hanya untuk meminta air. Maka dengan hati-hati ia turun dari ranjang, mengenakan jubah tipisnya, lalu berjalan keluar kamar. Koridor mansion terasa sunyi. Jam antik di dinding berdeta

