Hari-hari setelah pelajaran renang pertama itu berubah menjadi rutinitas baru bagi Valentina. Hampir setiap pagi, sebelum sarapan benar-benar habis, gadis kecil itu sudah berdiri di depan pintu kaca yang menghadap kolam renang belakang mansion. Tangannya menempel di kaca, matanya menatap air biru yang tenang seolah sedang memanggilnya. “Daddy,” panggil Valentina suatu pagi dengan suara yang terlalu bersemangat untuk ukuran jam tujuh. Albert yang baru saja menuruni tangga berhenti. “Ada apa lagi?” “Kita berenang lagi hari ini?” tanya Valentina tanpa basa-basi. Albert melirik jam di pergelangan tangannya. “Kemarin kamu sudah berenang dua jam.” “Valen masih mau belajar,” jawab Valentina cepat. “Valen belum bisa sempurna.” Kiara yang mendengar percakapan itu dari dapur langsung muncul

