Suasana rumah sakit sore itu begitu tenang, hanya terdengar langkah kaki perawat yang sesekali melintas di lorong panjang menuju ruang rawat VIP tempat Cassandra dirawat. Cahaya matahari yang mulai turun menembus jendela besar, menyoroti wajah pucat Cassandra yang terbaring di ranjang dengan mata sendu menatap ke luar jendela. Tangannya yang lemah menggenggam jemari Alden, suaminya, yang sejak tadi tidak bergeming dari sisi tempat tidur. Albert datang perlahan, membuka pintu kamar tanpa suara. Pria itu tampak tenang namun dari matanya terlihat jelas kekhawatiran dan duka yang mendalam. Di tangan kirinya masih tampak berkas dokumen perusahaan yang belum sempat ia urus, sementara tangan kanannya menggenggam sekotak kecil cokelat hangat yang ia tahu selalu disukai Cassandra. “Cassandra,” uc

