Kiara duduk termenung di kamarnya. Jam dinding berdetak pelan, terdengar begitu keras di telinganya. Sejak pembicaraan keras dengan Albert tadi pagi, pikirannya tak tenang. Keputusan Albert jelas: ia tidak boleh menemui Alden. Tapi hatinya menolak begitu saja pasrah. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendesak, sebuah kebutuhan untuk mengakhiri semua ini secara langsung dengan tatapan mata dan kata-kata terakhir. Ia melangkah ke balkon, menatap pekarangan luas mansion itu. Bodyguard berjaga di setiap sudut, seperti benteng hidup yang dibangun untuk mencegah siapa pun masuk atau keluar tanpa sepengetahuan Albert. Kiara menggigit bibirnya. Setiap jalan yang ia pikirkan seolah buntu. Di ruang tamu, ia pernah melihat telepon rumah yang terhubung dengan ruang keamanan. Ia sempat berpikir menyelin

