Kiara duduk di balkon kamarnya, kedua tangannya meremas rok tidurnya yang jatuh anggun di pahanya. Tatapannya kosong, tetapi matanya terarah pada mobil hitam yang sejak tadi terparkir di depan mansion. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya bergetar. Ia mengenali mobil itu. Mobil yang begitu familiar, mobil yang begitu sering menjemputnya dulu—mobil Alden. Bibirnya bergetar pelan, menghela napas panjang, lalu kembali terisak pelan. “Alden… kenapa kamu masih di sini…” bisiknya pada dirinya sendiri. Setiap detik yang berlalu seperti sebuah siksaan. Sudah berulang kali Albert mengusir Alden dari gerbang mansion ini, tetapi rupanya lelaki itu masih keras kepala. Masih saja bertahan. Masih saja berdiri di kejauhan seolah menunggu sesuatu yang tidak akan pernah Kiara berikan lagi. Kiara menund

