Albert berdiri di depan Victoria dengan sorot mata yang tidak pernah wanita itu lihat sebelumnya. Sorot yang bukan hanya marah… tetapi haus membunuh. Sorot yang muncul ketika seorang pria yang selama ini tenang, disiplin, berwibawa… kehilangan kewarasan karena wanita yang dicintainya disakiti. Victoria mundur satu langkah. “Albert… k-kita bisa bicarakan ini. Aku—” Albert tidak menunggu kalimatnya selesai. Dia menebas jarak di antara mereka dan langsung mencengkeram kerah blazer mahal milik Victoria. “Kau berani menyentuh istriku,” geram Albert. “Kau berani menculiknya. Kau berani membuatnya menderita. Dan sekarang… kau akan menanggung semuanya.” “Albert—lepaskan aku—!” Victoria panik, mencoba melepaskan diri. “Kita dulu partner, ingat? Kita bisa bekerja sama lagi! Kita bisa—” Albert m

