Taman belakang mansion sore itu terasa teduh. Langit mulai berwarna jingga, dan angin lembut menggerakkan dedaunan flamboyan yang mulai berguguran. Kiara duduk santai di bangku kayu panjang dengan secangkir teh di tangannya, menikmati ketenangan sore itu. Namun ketenangan itu perlahan memudar ketika dia menyadari Alden juga ada di taman yang sama, duduk tak jauh darinya di kursi seberang kolam kecil. Alden tampak diam, pandangannya kosong menatap air di kolam. Bahunya sesekali naik turun menahan napas panjang, seolah ada sesuatu yang berat di dadanya. Kiara menatap sekilas, lalu kembali menyesap tehnya. Namun setelah beberapa kali mendengar helaan napas berat Alden, dia tak tahan lagi. “Kamu kelihatan nggak tenang, Den,” ucap Kiara akhirnya, lembut namun jelas. “Ada yang mau kamu bicarak

