Pelarian di Balik Badai.

997 Words

​Gema pintu depan yang dibanting oleh Axel masih menyisakan getaran di dinding marmer kediaman Ludwig, namun di dalam kamar utama yang temaram, kesunyian yang mengikuti terasa jauh lebih menghancurkan. Luna masih bersimpuh di lantai, bahunya berguncang hebat karena isak tangis yang tak kunjung reda. Pengakuannya kepada Axel tidak memberikan kelegaan yang ia harapkan; sebaliknya, itu justru meninggalkan lubang menganga di dadanya. Ia merasa telah kehilangan segalanya—harga dirinya, sahabat terbaiknya, dan satu-satunya jembatan menuju kehidupan normal yang dulu ia impikan. Di tengah kehancuran emosional yang total ini, Luna merasa dunianya menjadi gelap dan hampa, menyisakan satu-satunya sosok yang masih berdiri kokoh di sampingnya, meski sosok itu pula yang menjadi penyebab utama penderitaa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD