Udara di dalam kamar utama itu mendadak menjadi sedingin es, meskipun sisa-sisa panas dari pergulatan intim yang baru saja terinterupsi masih menggantung samar di udara yang berat. Keheningan yang mengikuti teriakan Axel terasa lebih menyiksa daripada ledakan amarah mana pun. Hayes Ludwig berdiri tegak di samping tempat tidur, tangannya yang gemetar tersembunyi di balik lipatan jubah sutra gelap yang ia kenakan terburu-buru. Di depannya, putranya sendiri—darah daging yang ia besarkan dengan tangan besi namun penuh harapan—tampak seperti sosok yang asing, seorang pria muda yang hancur berkeping-keping di ambang kegilaan. Axel tidak lagi menatap ayahnya dengan rasa hormat atau ketakutan; ia menatap Hayes seolah-olah pria itu adalah bangkai yang membusuk di tengah ruang tamu mereka. Hayes

