Pagi itu, aroma kopi yang biasanya menenangkan di ruang makan kediaman Sterling terasa hambar, hampir seperti abu di lidah Axel Ludwig. Ia duduk dengan bahu yang merosot, matanya yang sembap dan kemerahan menunjukkan bahwa ia nyaris tidak memejamkan mata setelah insiden pembobolan yang gagal di apartemen ayahnya semalam. Di hadapannya, sebuah tablet menyala terang, memancarkan cahaya biru yang menyakitkan, menampilkan beranda berbagai situs berita nasional yang seolah-olah sedang merayakan pesta di atas reruntuhan nama baik keluarganya. Judul berita itu terpampang besar, tajam, dan tidak mengenal ampun: "Skandal Penguasa Ludwig: Antara Cinta Terlarang dan Eksploitasi Kekuasaan di Balik Menara." Axel merasakan perutnya mual, sebuah sensasi perih yang merayap dari ulu hati hingga ke kerongk

