Angin malam di pinggiran Jakarta berembus dengan ketajaman yang seolah mampu menguliti kulit, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa polusi yang menyesakkan. Axel Ludwig berdiri di tepi jembatan beton yang terbengkalai, menatap aliran sungai yang hitam di bawahnya, sebuah gambaran sempurna dari kekeruhan pikirannya sendiri. Ia telah melarikan diri dari kebisingan kota dan sorotan media yang terus menguliti nama keluarganya, namun ia tidak bisa melarikan diri dari bayang-bayang ayahnya, Hayes Ludwig. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, suara langkah kaki yang lembut namun pasti mendekat dari arah belakang. Axel tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang; aroma parfum yang lembut dan akrab, serta aura ketenangan yang melingkupinya, menandakan kehadiran Bella—wanita yang sela

