Suasana di dalam ruang kerja pribadi Miles Sterling terasa seperti sebuah bunker yang dipenuhi oleh sisa-sisa kejayaan yang mulai membusuk di bawah tekanan skandal yang kian memanas. Di luar, hujan rintik mulai membasahi kaca jendela besar yang menghadap ke arah gedung-gedung pencakar langit yang kini tampak seperti bayangan raksasa yang mengintimidasi. Di dalam, hawa panas dari amarah Miles masih terasa menyengat, bercampur dengan aroma wiski murah yang kini lebih sering menemaninya sejak posisinya mulai goyah. Di tengah kekacauan mental sang penguasa Sterling Group, sebuah kehadiran muncul tanpa diundang namun dengan kepercayaan diri yang melampaui batas kewajaran. Clifford Vance, sang rival bisnis ketiga yang selama ini bergerak di bawah radar, berdiri di ambang pintu dengan setelan ja

