Langit Jakarta di luar jendela ruang kerja eksekutif Hayes Ludwig terlihat keperakan, memantulkan lampu-lampu gedung pencakar langit lain yang beradu dalam kompetisi tanpa akhir. Di dalam ruang rapat board yang terpisah hanya oleh dinding kaca tebal, Hayes duduk di ujung meja obsidian, memimpin presentasi mengenai akuisisi e-commerce raksasa di Asia Tenggara. Ia tampak sebagai lambang ketenangan, setiap kata yang terucap adalah perintah, setiap isyarat tangan adalah keputusan bernilai triliunan Rupiah. Namun, di balik topeng ketenangan itu, mesin analitis dalam benaknya berputar kencang. Ia baru saja menerima laporan dari Daniel, kepala keamanannya, sebuah laporan yang lebih mengancam daripada fluktuasi pasar modal. Axel, putranya sendiri, telah bergerak. Bukan lagi sekadar perlawanan r

