Semburat fajar menyusup malu-malu melalui celah tirai sutra di kamar Luna, membawa cahaya keabu-abuan yang menyiram sisa-sisa pergulatan emosional dan fisik yang baru saja mereka lalui. Di atas ranjang yang berantakan, Hayes Ludwig masih memeluk Luna Sterling dengan protektif. Napas mereka perlahan mulai berpadu dengan ritme yang tenang, kontras dengan badai yang berkecamuk di d**a mereka beberapa jam yang lalu. Kulit mereka yang masih hangat bersentuhan, menjadi satu-satunya pelindung dari kenyataan pahit yang menunggu di balik pintu kamar yang terkunci. Hayes mencium puncak kepala Luna, menghirup aroma rambutnya yang menenangkan, sementara Luna menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Hayes, seolah mencoba menelan sisa-sisa kebahagiaan yang rapuh ini sebelum dunia luar menagih paksa kehad

