Keheningan yang mencekam di aula utama kediaman Sterling seolah-olah memiliki berat yang mampu meremukkan tulang. Miles berdiri terpaku di depan pecahan kristal, wajahnya pucat pasi menyerupai mayat, sementara Hayes Ludwig masih mematung di ambang pintu, napasnya tersengal seakan paru-parunya menolak oksigen yang baru saja dilewati oleh sosok Bella. Di tengah badai emosi yang membeku itu, Bella melangkah perlahan menuju Luna. Setiap ketukan tumit sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti detak jantung yang berpacu melawan waktu. Baginya, ruangan itu bukan lagi sebuah rumah, melainkan teater tragedi yang ia tinggalkan dua puluh tahun lalu, dan kini ia harus memainkan peran yang paling sulit dalam hidupnya: menjadi seorang ibu bagi putri yang ia tinggalkan di tengah serigala. Luna

