Kegelapan di dalam griya tawang pribadi Hayes Ludwig malam itu terasa lebih pekat daripada biasanya, seolah-olah bayangan dari masa lalu telah mewujud menjadi materi fisik yang menyesakkan napas. Hayes duduk sendirian di sofa kulit besarnya, mengabaikan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang biasanya ia pandangi dengan rasa bangga sebagai penguasa industri. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi wiski yang sudah mencair esnya hanya diputar-putar tanpa diminum. Pikirannya tidak lagi berada di ruang rapat atau lantai bursa yang baru saja ia guncang. Jiwanya kini terseret kembali ke lorong waktu dua puluh lima tahun yang lalu, ke masa di mana segalanya terasa lebih sederhana namun sekaligus menjadi awal dari kehancuran yang ia saksikan hari ini. Hayes merasa dihantui, bukan oleh sosok yang

