Hujan badai yang mengguyur Jakarta seolah mewakili kehancuran yang terjadi di dalam d**a Luna. Di dalam taksi yang melaju menembus jalanan yang temaram, Luna menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang dingin. Di pangkuannya, ponselnya terus menyala, menampilkan rentetan berita utama yang tidak berhenti menyerang martabatnya. Video-video amatir tentang Hayes yang dikepung wartawan, dokumen-dokumen internal yang dipalsukan Axel, hingga spekulasi tentang dirinya sebagai objek pencucian uang terus berputar seperti pisau yang menguliti harga dirinya perlahan-lahan. Rasa kecewa itu kini membeku menjadi kemarahan yang dingin. Luna teringat setiap desahan, setiap janji manis, dan setiap sentuhan yang Hayes berikan malam sebelumnya. Semalam, ia merasa seolah-olah Hayes adalah satu-satunya tem

