Lampu kristal di ruang tengah apartemen itu tampak bergetar pelan, seiring dengan suara gebrakan meja yang dilakukan Hayes Ludwig untuk kesekian kalinya. Napas pria itu memburu, menciptakan uap kemarahan yang seolah bisa dirasakan di udara yang pengap oleh ketegangan. Luna Sterling berdiri mematung di depannya, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang pucat, namun matanya memancarkan kombinasi antara rasa sakit dan pembangkangan yang belum pernah Hayes lihat sebelumnya. Hayes baru saja pulang dari kantor dengan membawa beban pengkhianatan Axel yang hampir menghancurkan kontrak terpentingnya, dan entah mengapa, seluruh racun frustrasi itu kini tumpah tepat di hadapan wanita yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung. "Kamu ingin tahu apa yang salah, Luna? Yang salah adalah aku mem

