Cahaya matahari pagi yang menyelinap masuk melalui celah gorden sutra di kamar utama tidak mampu mengusir sisa-sisa kegelapan yang menggantung di udara. Luna terbangun dengan rasa lelah yang masih menghuni setiap sendi tubuhnya, meski semalam ia telah menyerahkan seluruh jiwanya pada Hayes dalam sebuah penyatuan yang paling jujur. Ia merasakan lengan kuat Hayes masih melingkar protektif di pinggangnya, seolah pria itu takut jika ia melonggarkan pelukan barang sedetik saja, Luna akan menguap seperti embun pagi. Aroma kayu cendana dan sisa keringat semalam menciptakan suasana intim yang seharusnya menenangkan, namun bagi Luna, ada firasat berat yang mulai menekan dadanya. Ia tahu bahwa setelah badai gairah itu mereda, realitas dunia luar akan menuntut jawaban yang lebih konkret daripada seka

