Malam semakin larut di kediaman Sterling, namun atmosfer di dalam aula utama yang baru saja menjadi saksi bisu bentrokan fisik antara dua penguasa kota itu kian mencekam, seolah-olah udara di sana telah berubah menjadi timah yang berat dan beracun. Hujan badai di luar sana bukan lagi sekadar latar belakang, melainkan simfoni kehancuran yang sempurna bagi drama yang sedang mencapai puncaknya. Miles Sterling berdiri di tengah ruangan dengan napas yang masih tersengal, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Ia menyeka noda darah dari sudut bibirnya yang pecah menggunakan sapu tangan sutra putih yang kini ternoda merah pekat—sebuah simbol dari silsilah keluarga mereka yang mulai berantakan. Di hadapannya, hanya terpaut beberapa langkah dari ambang pintu yang terbuka lebar memperlihatkan k

